Widget edited by super-bee

Sabtu, 17 Desember 2011

KTI ASI

BAB I
PENDAHULUAN




A.   Latar belakang
       Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) mengamanatkan bahwa pembangunan di harapkan pada meningkatnya mutu Sumber Daya Manusia(SDM). Modal dasar pembentukan manusia berkualitas dimulai sejak bayi dalam kandungan pada trimester kedua disertai dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sejak usia dini terutama pemberian ASI Eksklusif ( Ikatan Bidan Indonesia, 2006 ).
Pemberian ASI dari awal kelahiran sampai 4-6 bulan akan menjadikan sendi-sendi kehidupan yang terbaik baginya kelak. ASI juga menjamin bayi tetap sehat dan memulai kehidupannya dalam cara yang paling sehat. Karena ASI adalah makanan terbaik diawal kehidupan bayi (Soetjiningsih, 2004).
Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila gizi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. Peningkatan ini sesuai dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan. Melalui ASI eksklusif akan lahir generasi baru yang sehat secara mental emosional dan sosial (Soetjiningsih, 2004).
Aturan WHO Berubah dari 4 menjadi 6 bulan, Kalau  zaman dulu (sebelum diberlakukan ASI eksklusif 6 bulan) umur 4 bulan  saja diberi makan bahkan ada yg umur 1 bulan. Dan banyak yang berpendapat tidak ada masalah dengan  anaknya. Satu hal yg perlu diketahui bersama bahwa zaman terus berubah. Demikian juga dengan ilmu & teknologi. Ilmu medis juga terus berkembang dan berubah berdasarkan riset-riset yg terus dilakukan oleh para peneliti. Sekitar lebih dari 5 tahun  yang lalu, MP-ASI disarankan diperkenalkan pada anak saat ia berusia 4 bulan. Tetapi kemudian beberapa penelitian tahun-tahun terakhir menghasilkan banyak hal sehingga MP-ASI sebaiknya diberikan > 6 bulan. Sekali lagi tidak mungkin ada saran dari WHO & IDAI jika tidak dilakukan penelitian panjang. Lagipula tiap anak itu beda. Bisa jadi tidak jadi masalah untuk kita tapi belum tentu untuk yang lain (World Health Organization / Organisasi Kesehatan Dunia 2001) diakses tanggal 28 Maret  2011).
      Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan ibu- ibu yang tidak berhasil menyusui bayinya atau bahkan menghentikan menyusui bayinya lebih didni dengan berbagai alasan. Seringkali hal tersebut dilakukan karena ketidaktahuan ibu akan manfaat ASI yang begitu besar baik untuk ibu maupun anak. Bahkan kecenderungan yang terjadi akhir-akhir ini jumlah ibu yang tidak mau lagi menyusui bayinya semakin meningkat. Kejadian ini banyak sekali ditemukan pada sekelompok ibu-ibu terutama pada lingkungan ibu dan keluarga  yang berpenghasilan cukup, yang kemudian menjalar ke daerah pinggiran kota dan menyebar sampai ke desa-desa meskipun ASI nyatanya penting bagi kesehatan ibu dan anak. Fenomena yang terjadi selama ini didorong oleh berbagai factor antara lain karena adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga, banyaknya iklan yang menyesatkan para ibu juga kurangnya panduan yang dapat dinikmati segenap lapisan masyarakat ( Baskoro, 2008 ).
Hanya 14% ibu di Tanah Air yang memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada bayinya sampai enam bulan. Rata-rata bayi di Indonesia hanya menerima ASI eksklusif kurang dari dua bulan. Hasil yang dikeluarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) periode 1997-2003 cukup memprihatinkan. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sangat rendah.
Direktur Bina Gizi Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan (Depkes) menjelaskan, fenomena semacam itu akan berimbas buruk bagi kesehatan balita. Ia merujuk pada penelitian di Ghana, yang menunjukkan bahwa 16% kematian bayi baru lahir bisa dicegah bila bayi disusui pada hari pertama kelahiran. ''Angka harapan hidup bayi akan meningkat menjadi 22% jika bayi disusui pada 1 jam pertama setelah kelahiran.
Menurut Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) 2002 – 2003 pada tahun 2003 terdapat sekitar 6,7 juta balita (27,3%) menderita gizi kurang dan 1,5 juta diantaranya gizi buruk. Anemia defisiensi besi dijumpai pada sekitar 8,1 juta anak. Apabila dikaitkan dengan pemberian ASI ekslusif, keadaan ini cukup memprihatinkan.
Menurut SDKI tahun 1997 dan 2002, lebih dari 95% ibu pernah menyusui bayinya, namun yang menyusui dalam 1 jam pertama cenderung menurun dari 8% pada tahun 1997 menjadi 3,7% pada tahun 2002. Cakupan ASI eksklusif 6 bulan menurun dari 42,4% tahun 1997 menjadi 39,5% pada tahun 2002. Sementara itu penggunaan susu formula justru meningkat lebih dari 3 kali lipat selama 5 tahun dari 10,8% tahun 1997 menjadi 32,5% pada tahun 2002.

     Berdasarkan latar belakang diatas penulis ingin mengetahui gambaran pemberian ASI Eksklusif berdasarkan tingkat pengetahuan ibu di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten Bone
  1. Rumusan masalah
Masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana gambaran umum pemberian ASI eksklusif di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten Bone


  1. Tujuan penelitian
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran umum pemberian ASI Eksklusif di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten Bone
2. Tujuan Khusus
2.1.Mengetahui gambaran umum pemberian ASI eksklusif berdasarkan umur ibu
2.2.Mengetahui gambaran umum pemberian ASI eksklusif berdasarkan pendidikan ibu
2.3.Mengetahui gambaran umum pemberian ASI eksklusif berdasarkan pengetahuan ibu
D.   Manfaat penelitian
1.  Manfaat Ilmiah
Merupakan informasi dalam mengembangkan  cakrawala berfikir /wawancara kognitif bagi peneliti lainnya untuk kelanjutan dan perbaikan penelitian ini dimasa yang akan datang.
2.  Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi kepada pihak di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten Bone
mengenai gambaran umum pemberian ASI Eksklusif, sehingga pada akhirnya dapat melakukan upaya dalam rangka meningkatkan PP – ASI di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten Bone Bagi Responden
Dapat meningkatkan pemberian ASI Eksklusif kepada bayi, agar bayi/anak jadi sehat dan cerdas.
3.    Manfaat bagi penulis
Merupakan pengalaman yang berharga khususnya pada pemberian ASI Eksklusif.

 


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA



A.   Tinjauan Umum Tentang ASI
1.    Definisi ASI (Air Susu Ibu)
            ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal.(Anton, 2008)
 ASI (Air Susu Ibu) adalah satu jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi baik fisik, psikologi, sosial, maupun spiritual. (Hubertin, 2003)
            Pengertian menurut Diah wulandari, 2001 ASI (Air Susu Ibu) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam – garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar mammae dari ibu yang berguna sebagai makanan bayi.
2.                Anatomi Payudara dan Fisiologi Laktasi
a.    Payudara (mammae, susu) adalah kelenjar yang terletak di bawah kulit, di atas otot dada dan fungsinya memproduksi susu untuk nutrisi bayi. Ukuran normal 10-12 cm dengan beratnya pada wanita hamil adalah 200 gram, pada wanita hamil aterm 400-600 gram dan pada masa laktasi sekitar 600-800 gram. Bentuk dan ukuran payudara akan bervariasi menurut aktivitas fungsionalnya.payudara menjadi besar saat hamil dan menyusui dan biasanya mengecil setelah menopause. Pembesaran ini terutama disebabkan oleh pertumbuhan struma jaringan penyangga dan penimbunan jaringan lemak.
b.    Ada tiga bagian utama payudara, yaitu :
1.    Korpus (badan), yaitu bagian yang membesar.
2.    Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah.
3.    Paula atau puting yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara.
                Dalam korpus mammae tardapat alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Alveolus terdiri dari beberapa sel Aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos dan pembuluh darah. Beberapa alveolus mengelompok membentuk lobulus berkumpul menjadi 15 – 20 lobulus pada tiap payudara.. Dibawah areola saluran yang besar melebar, disebut Sinus Laktiferous. Akhirnya semua memusat kedalam putting dan bermuara ke luar. Di dalam dinding alveolus maupun saluran – saluran, terdapat otot polos yang bisa berkontraksi memompa ASI keluar.

c.    Fisiologi laktasi atau menyusui mempunyai dua pengertian yaitu produksi air susu (prolaktin) dan pengeluaran air susu (oksitosin).Payudara mulai dibentuk sejak embrio berumur 18 – 19 minggu, dan baru selesai ketika mulai menstruasi, selama kehamilan hormone prolaktin dan plasenta meningkat tetapi ASI biasanya belum keluar karena masih dihambat oleh kadar estrogen yang tinggi. Pada hari kedua atau ketiga pasca persalinan kadar estrogen dan progesterone turun drastis sehingga pengaruh prolaktin lebih dominan dan pada saat inilah mulai terjadi sekresi ASI. Dengan menyusukan lebih dini terjadi peransangan putting susu, terbentuklah prolaktin oleh hipofisis sehingga sekresi ASI semakin lancar.
       Refleks pada ibu yang sangat penting dalam proses laktasi  yaitu refleks prolaktin, refleks aliran  (let down refleks) sedangkan tiga refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi adalah refleks menangkap (rooting refleks), refleks menghisap dan refleks menelan (Eny R.A, 2004)
3.     Manfaat pemberian ASI
                  ASI sangat di perlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak. Menurut penelitian, anak-anak yang tidak di beri ASI mempunyai IQ ( intellectual quotient )lebih rendah 7 – 8 poin di bandingkan dengan anak-anak yang di beri ASI secara eksklusif. ASI merupakan makanan bayi yang paling sempurna, mudah di cerna dan di serap karena mengandung enzim pencernaan, dapat mencegah terjadinya penyakit infeksi karena mengandung zat penangkal penyakit ( misalnya immunoglobulin ), praktis dan mudah memberikannya, serta murah dan bersih. Selain itu, asi mengandung rangkaian asam lemak tak jenuh yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan otak anak. ASI selalu berada dalam suhu yang tepat, tidak menyebabkan alergi, dapat mencegah kerusakan gigi dan dapat mengoptimalkan perkembangan bayi.
            Selain keuntungan yang tampak ketika masih bayi, menyusui juga mempunyai kontribusi dalam menjaga kesehatan anak seumur hidupnya. Orang dewasa yang mendapatkan ASI eksklusif semasa bayi mempunyai resiko rendah terkena hipertensi, kolesterol, overweight, obesitas dan diabetes tipe 2, serta mempunyai kecerdasan lebih tinggi. Anak-anak yang di beri ASI secara eksklusif sangat rentan terkena penyakit kronis, seperti kanker, jantung, hipertensi dan diabetes setelah ia dewasa nanti.tidak hanya itu, anak juga dapat menderita kekurangan gizi dan mengalami obesitas (kegemukan). ( Nurheti, 2010 ) 

Adapun beberapa manfaat lain dari ASI bagi bayi maupun ibu yang menyusui antara lain : (Anonim, 2006)
1.     ASI lebih murah.
2.     Bayi yang menyusui ASI cenderung lebih sehat.
3.     Memberikan perlindungan imunitas pasif dari ibu pada anak.
4.     ASI membantu penyerapan berbagai vitamin.
5.     ASI mengandung berbagai protein yang tidak ada pada susu sapi atau buatan.
6.     ASI membantu mencegah terjadinya reaksi alergi (dermatitis atopi, asma).
7.     Mengandung berbagai enzim untuk membantu proses pencernaan.
8.     Ibu yang menyusui memiliki insiden yang lebih rendah terhadap kemungkinan kanker payudara.
9.     Ibu dan bayi menjadi lebih rileks.
4.     Klasifikasi ASI
a)    ASI Stadium I
       ASI Stadium I  adalah  kolostrum. Kolostrum merupakan cairan yang pertama disekresi olek kelenjar payudara dari hari ke-1 sampai hari ke-4. Setelah persalinan komposisi kolostrum ASI mengalami perubahan. Kolostrum berwarna kuning keemasan disebabkan oleh tingginya komposisi lemak dan sel – sel hidup. Kolostrum merupakan pencahar (pembersih usus bayi) yang membersihkan mekonium sehingga glukosa usus bayi yang baru lahir segera bersih dan siap menerima ASI. Hal ini menyebabkan bayi yang mendapat ASI pada minggu ke-1 sering defekasi dan feses berwarna hitam.
       Kandungan tertinggi dalam kolostrum adalah antibody yang siap melindungi bayi ketika kondisi bayi masih sangat lemah. Kandungan protein dalam kolostrum lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan protein dalam susu matur. Jenis protein globulin membuat konsistensi kolostrum menjadi pekat ataupun padat  sehingga  bayi lebih lama merasa kenyang meskipun hanya mendapat sedikit kolostrum. (Purwanti, 2004). Ada beberapa hal penting yang terjadi ketika kolostrum diproduksi, antara lain  : 
1.    Komposisi kolostrum dari hari ke hari berubah.
2.    Kolostrum merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuning – kuningan, lebih kuning dibandingkan ASI Mature.
3.    Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI Mature yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
4.    Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI Mature.
5.    Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin tinggi.
6.    Volume semakin meningkat. (Baskoro , 2008)
b)     ASI Stadium II
      ASI Stadium II adalah ASI peralihan. ASI ini diproduksi pada hari ke-4 sampai hari ke-10. Komposisi protein makin rendah, sedangkan hidrat arang makin tinggi, dan jumlah volume ASI semakin meningkat. Hal ini merupakan pemenuhan terhadap aktivitas bayi yang mulai aktif  karena bayi sudah beradaptasi terhadap lingkungan. Pada masa ini, pengeluaran ASI mulai stabil begitu juga kondisi fisik ibu. Keluhan nyeri pada payudara sudah berkurang. Oleh karena itu, yang perlu ditingkatkan adalah kandungan protein dan kalsium dalam makanan Ibu. (Purwanti, 2004)     
c)    ASI Stadium III
      ASI Stadium III adalah ASI Mature. ASI yang disekresi pada hari ke-10 sampai seterusnya. ASI matur merupakan nutrisi bayi yang terus berubah disesuaikan dengan perkembangan bayi berumur 6 bulan. Setelah 6 bulan, bayi mulai dikenalkan dengan makanan lain selain ASI. Dimulai dengan makanan yang lunak, kemudian padat, dan makanan biasa sesuai dengan umur bayi. Telur akan lebih aman bila diberi setelah satu tahun karena sistem pencernaan bayi telah siap mengatasi alergi yang dapat ditimbulkan oleh jenis proteinnya.
      Masa kritis pemberian ASI adalah pada bulan kedua bagi ibu yang harus kembali bekerja. Biasanya ibu mulai melatih dengan memberi pengenalan susu buatan. Hal ini merupakan tindakan yang keliru karena dengan memberi pengenalan pada susu buatan berarti akan mulai terjadi penekanan produksi ASI. Keadaan ini dapat diatasi dengan ibu tetap harus lebih sering memberikan ASI dan mengosongkan payudara dengan melakukan pengurutan tiap kali sehabis menyusui.
      Pengosongan payudara setiap kali menyusui akan terus merangsang hormon prolaktin yang membantu memproduksi ASI menjadi lebih banyak dan dapat menyimpan sisa ASInya dalam lemari pendingin. Dengan metode ini, bayi tidak akan pernah kekurangan ASI walaupun ibu pergi bekerja. (Purwanti, 2004)
5.  Manajemen laktasi
                        Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui, mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi mengisap dan menelan ASI. Manajemen laktasi adalah upaya – upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa   menyusui selanjutnya. Adapun manajemen laktasi atau upaya – upaya yang dilakukan pada masa laktasi adalah sebagai  berikut  :
I.                  Masa Kehamilan (Antenatal)
a.    Memberikan penerangan dan penyuluhan tentang manfaat dan keunggulan ASI, manfaat menyusui baik bagi ibu maupun bayinya.
b.    Pemeriksaan kesehatan, kehamilan dan payudara atau keadaan puting susu, apakah ada kelainan atau tidak. Disamping itu perlu dipantau kenaikan berat badan ibu hamil.
c.    Perawatan payudara mulai kehamilan umur enam bulan agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI yang cukup.
d.    Memperhatikan gizi atau makanan tambahan mulai dari kehamilan trimester kedua sebanyak 1 1/3 kali dari makanan pada saat belum hamil.
e.         Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. (Baskoro, 2008)
II.       Masa segera setelah persalinan (Prenatal)
a.    Ibu dibantu menyusui 30 menit setelah kelahiran dan ditunjukkan cara menyusui yang baik dan benar, yaitu : tentang posisi dan cara melekatkan bayi pada payudara ibu.
b.    Membantu terjadinya kontak langsung antara bayi – ibu selama 24 jam sehari agar menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal.
c.    Ibu nifas diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 S1) dalam waktu dua minggu setelah melahirkan. (Baskoro, 2008)
III.  Masa menyusui selanjutnya (Post-natal)
a.    Menyusui dilanjutkan secara Eksklusif selama 4 bulan pertama usia bayi, yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan dan minuman lainnya.
b.    Perhatikan gizi atau makanan ibu menyusui, perlu makanan 1 ½ kali lebih banyak dari biasa dan minuman minimal 8 gelas sehari.
c.    Ibu menyusui harus cukup istirahat dan menjaga ketenangan pikiran dan menghindarkan kelelahan yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat.
d.    Pengertian dan dukungan keluarga terutama suami penting untuk menunjang keberhasilan menyusui.
e.    Rujuk ke Posyandu atau Puskesmas atau petugas kesehatan apabila ada permasalahan menyusui seperti payudara bengkak disertai demam.
f.     Memperhatikan gizi/makanan anak, terutama mulai bayi 4 bulan, berikan MP ASI yang cukup baik kuantitas maupun kualitasnya. (Baskoro, 2008).
6.     Cara menyusui yang baik dan benar.
       Kontak antara kulit ibu bayi segera setelah lahir dan menyusui sendiri dalam satu jam pertama kehidupan sangat penting. Selain itu, bayi jadi lebih tenang, kurang stres, pernafasan dan detak jantungnya lebih stabil. Bayi akan tercemar lebih dulu oleh bakteri dari ibu yang tidak berbahaya atau ada antinya di ASI ibu. Bakteri ini akan membuat koloni di usus dan kulit bayi menyaingi bakteri yang lebih ganas dari lingkungan. Bayi juga mendapat kolostrum, cairan emas kaya antibody, dan zat – zat penting untuk kelangsungan hidup bayi. Kegagalan pemberian ASI seringkali karena ketidaktahuan ibu dalam memposisikan dan melekatkan bayi. Puting ibu  menjadi lecet sehingga ibu jadi segan menyusui, produksi ASi berkurang dan bayi menjadi malas menyusui.
Keterampilan Menyusui ( Soetjiningsih, 2004 ) :
Banyak permasalahan dalam menyusui seperti (nyeri pada puting susu, air susu yang jumlahnya sedikit, atau ibu tidak nyaman dalam menyusui) bisa dipecahkan dengan meningkatkan teknik dasar dalam menyusui, khususnya dalam memposisikan ibu dan bayi dengan benar.
Posisi Ibu :
1.   Duduklah dengan nyaman dan carilah posisi yang paling nyaman ketika duduk diatas kursi, atau kursi goyang, kursi berlengan atau bahkan duduk diatas kasur dengan bersandar pada dinding atau sandaran kasur.
2.  Letakkan bantal dibelakang punggung, dan dibawah lengan yang akan memberikan tumpuan ketika ibu menggendong bayi.
3.   Gunakan tumpuan kaki atau pijakan bila ibu duduk, khususnya bila menggunakan kursi yang cukup tinggi.
4.   Bisa juga ibu bersandar pada sandaran kasur dengan posisi menghadap bayi dengan menggunakan bantal sebagai penyangga kepala, leher, punggung dan kaki bagian atas.
Posisi bayi :
1.   Disarankan untuk memulai persiapan pemberian ASI dengan mengenakan pakaian yang sederhana pada bayi atau bahkan tidak mengenakan pakaian, untuk meningkatkan kontak dengan ibu.
2.   Baringkan bayi dalam dekapan ibu, dengan posisi menghadap payudara. Posisi leher pada lipatan lengan, badan terbaring disepanjang lengan dan pantat dipegang oleh tangan.
3.   Setelah itu putarlah tubuh bayi sedemikian rupa sehingga posisi bayi berhadapan dengan badan ibu.
4.   Posisi tubuh bayi harus dalam kedaan tegak lurus menghadap tubuh ibu, jangan memutar leher bayi untuk mencapai putting susu ibu.
5.   Jika posisi bayi kurang tinggi, gunakan bantal untuk menyangga lengan.
6.   Posisikan lengan bayi dengan baik, lengan bawah diposisikan di bawah payudara dan lengan yang atas bila mengganggu bisa ditahan dengan menggunakan ibu jari lengan yang menggendong.
Posisi payudara :
1.   Hal yang pertama perlu dilakukan dalam persiapan payudara menjelang menyusui. Secara manual pijatlah payudara untuk mendapatkan beberapa tetes ASI pada puting ibu, hal ini akan melembabkan payudara ibu.
2.   Tahanlah payudara, beban payudara ditahan dengan telapak tangan dan jari-jemari di bawahnya dan ibu jari di atasnya.
3.   Jauhkan jari dari daerah areola, sehingga menjauhi daerah tempat bayi menghisap susu, hal ini bertujuan untuk menghindari kontaminasi.
Memulai menyusui :
1.   Dekatkan mulut bayi pada puting yang sudah lembab tadi, lalu pijatlah bibir bayi dengan lembut untuk merangsang refleks menghisap pada bayi.
2.   Ketika mulut bayi terbuka, segeralah melekatkan mulut bayi di tengah payudara dan dekatlah bayi dengan erat ke tubuh ibu.
3.   Pastikan bayi menghisap hingga areola payudara bukan puting susu ibu, dengan ini nyeri pada payudara selama menyusui bisa dihindari.
4. Buatlah penyesuaian dengan irama pernafasan bayi.
5.   Ketika bayi sudah menghisap ASI dengan baik maka pastikan kita mengatur posisi payudara dengan baik, tahan berat payudara dengan tangan sehingga berat payudara tidak seluruhnya membebani mulut dan bibir bayi.
6.   Hal terakhir yang cukup penting adalah, ketika kita akan menghentikan pemberian ASI, jangan menarik mulut bayi dari payudara ketika bayi masih menghisap. Maka hentikan dahulu hisapan bayi lalu jauhkan bayi dari payudara dengan perlahan-lahan, hal ini bertujuan agar penghentian menyusui ini tidak melukai payudara, yang bisa berakibat nyeri hingga infeksi payudara.
B. Tinjauan Umum ASI Eksklusif
Pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi hanya di beri ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air  teh, air putih dan tambahan makanan padat seperti pisang, papaya, bubur, susu, biscuit, bubur nasi dan tim. Pemberian  ASI secara eksklusif ini di anjurkan untuk jangka waktu setidaknya selama 6 bulan, dan setelah 6 bulan bayi mulai di perkenalakan dengan makanan padat. Sedangkan ASI dapat diberikan sampai bayi beusia 2 tahun  atau bahkan lebih dari 2 tahun.( Selasi, 2009 )
ASI eksklusif adalah pemberian ASI ( Air Susu Ibu ) sedini mungkin setelah persalinan, diberikan tanpa jadwal dan tidak diberikan makanan lain, walaupun hanya air putih, sampai bayi berumur 6 bulan. (Purwanti, 2004)
Air Susu Ibu (ASI) adalah minuman alamiah utama untuk semua bayi cukup bulan yang diperuntukan selama usia bulan-bulan pertama kehidupan bayi (Nelson, 2000). ASI dianggap sebagai nutrisi terbaik bagi neonatus dan infant. ASI selalu mudah tersedia pada suhu yang sesuai diinginkan bayi dan tidak memerlukan banyak waktu untuk persiapannya. Substansi ASI segar dan bebas dari kontaminasi bakteri yang berbahaya sehingga mengurangi peluang gangguan pencernaan.
ASI Eksklusif didefinisikan sebagai konsumsi dan asupan makanan bagi bayi, asupan makanan tersebut adalah Air Susu Ibu tanpa suplemen jenis apapun baik itu air, juice, makanan dalam bentuk apapun kecuali untuk vitamin, mineral dan pengobatan.Selain definisi diatas ASI Eksklusif juga didefinisikan sebagai prilaku dimana hanya memberikan Air Susu Ibu saja kepada bayi sampai umur 6 bulan tanpa makanan dan ataupun minuman lain kecuali sirup obat. (Baskoro, 2008)
Air Susu Ibu merupakan makanan terbaik bagi bayi usia 0 – 6 bulan, karena mengandung semua bahan yang diperlukan bayi. Dan yang perlu ditekankan adalah bahwa Tuhan telah menciptakan ASI tersebut untuk anak manusia, seperti halnya Tuhan telah menciptakan air susu sapi untuk anak sapi.
Salah satu kelebihan pemberian ASI Eksklusif adalah rasa kasih sayang. Dengan menyusui secara Eksklusif (hanya ASI saja tanpa pemberian cairan atau makanan lain), kasih sayang ibu tercurah kepada bayinya dan anak merasakan juga kehangatan ibunya. Anak merasa  terlindung  dalam  dekapan  ibunya, mendengar langsung denyut jantung ibu dan merasakan sentuhan dengan tubuh ibunya. Semua yang dirasakan bayi selama disusui ibunya tersebut, tidak akan dapat dirasakan ketika minum susu lainnya selain ASI dengan botol.
UNICEF memperkirakan bahwa pemberian ASI Ekskusif sampai usia 6 bulan dapat mencegah kematian 1,3  juta anak berusia dibawah lima tahun. Suatu  penelitian di Ghana yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics menunjukkan, 16 % kematian bayi dapat dicegah melalui pemberian ASI pada bayi sejak hari pertama kelahirannya. Angka ini naik menjadi 22 % jika pemberian ASI dimulai dalam satu jam pertama setelah kelahiran bayi.
Namun, di Indonesia hanya 8 % ibu yang memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya sampai berumur 6 bulan dan hanya 4 % bayi disusui ibunya dalam waktu satu jam pertama setelah kelahirannya. Padahal sekitar 21.000 kematian bayi baru lahir  (usia dibawah 28 hari) di Indonesia dapat dicegah melalui pemberian ASI pada satu jam pertama setelah lahir.
Untuk mempererat ikatan batin antara ibu – anak, setelah dilahirkan sebaiknya bayi langsung diletakkan di dada ibunya sebelum bayi dibersihkan. Sentuhan kulit dengan kulit mampu menghadirkan efek psikologis yang dalam di antara ibu dan anak.
Penelitian membuktikan bahwa ASI Eksklusif salama 6 bulan memang baik bagi bayi. Naluri bayi akan membimbingnya saat baru lahir, insting bayi membawanya untuk mencari putting sang bunda. Pada jam pertama si bayi menemukan payudara ibunya, ini adalah awal hubungan menyusui yang berkelanjutan dalam kehidupan antara ibu dan bayi menyusu. Proses setelah IMD dilanjutkan pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan hingga dua tahun. Berdasarkan penelitian, jika bayi yang baru lahir dipisahkan dengan ibunya, maka hormon stress akan meningkat 50 %. Otomatis, hal itu akan menyebabkan kekebalan atau daya tahan tubuh bayi menurun.
Jika dilakukan kontak antara kulit ibu dan bayi, maka hormon stress akan kembali turun sehingga bayi menjadi lebih tenang, tidak stress, pernafasan dan detak jantungnya lebih stabil. Sentuhan, emutan, dan jilatan bayi pada puting ibu selama proses IMD akan merangsang keluarnya oksitosin yang menyebabkan rahim berkontraksi sehingga membantu pengeluaran plasenta dan mengurangi perdarahan pada ibu.
Sentuhan dari bayi juga merangsang hormone lain yang membuat ibu menjadi tenang, rileks, dan mencintai bayi, serta merangsang pengaliran ASI dari payudara. Secara alamiah, proses inisiasi menyusui dini akan mengurangi rasa sakit pada ibu. Selain itu, bayi juga dilatih motoriknya pada saat proses tersebut.
ASI merupakan santapan pertama dan utama bagi bayi baru lahir serta terbaik dan alamiah, mengandung semua zat gizi sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi secara optimal. Permasalahan dalam pemberian ASI Ekslusif adalah masih rendahnya pemahaman ibu, keluarga dan masyarakat tentang ASI. Kebiasaan memberi makanan atau minuman secara dini dari sebagian masyarakat juga memberi pemicu dari kurang berhasilnya pemberian ASI Eksklusif.(Baskoro, 2008)
    Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui tersebut adalah :
 1.  Sarana Pelayanan Kesehatan  mempunyai kebijakan Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu (PP-ASI) tertulis yang secara rutin dikomunikasikan kepada semua petugas.
2.   Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan dan ketrampilan untuk menerapkan kebijakan tersebut
 3.   Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya dimulai sejak masa kehamilan, masa bayi lahir sampai umur 2 tahun termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui.
4.   Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah melahirkan, yang dilakukan di ruang bersalin. Apabila ibu mendapat operasi Caesar, bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar.
5.   Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis
6.   Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada bayi baru lahir.
7.   Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari.
8.   Membantu ibu menyusui semau bayi semau ibu, tanpa pembatasan terhadap lama dan frekuensi menyusui
9.   Tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi yang diberi ASI.
10. Mengupayakan terbentuknya Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) dan rujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari Rumah sakit/Rumah bersalin/sarana pelayanan Kesehatan.  (Profi_kesehatan.doc 2007) diakses tanggal 28 April 2011
C.        Tinjauan Umum Tentang Variabel Yang Diteliti
1)                  Umur
                          Umur sangat berpengaruh terhadap kepribadian seorang ibu yang berusia reproduksi muda ( < 20 tahun ) keadaan emosional belum stabil, dimana egonya masih ingin bebas sebagai orang muda, sedangkan ibu dalam kelompok usia reproduksi sehat (20 – 35 tahun) diharapkan memberikan prilaku positif terhadap pemberian ASI Eksklusif. Sedangkan ibu yang berusia reproduksi lanjut ( ≥ 35 tahun) akan merasa malu jika menyusukan bayinya diusia yang demikian.
2)                                                                                          Pendidikan
                         Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode – metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.       Pendidikan dapat juga diartikan sebagai pengajaran. Jika pengertian seperti ini dipedomani, setiap orang yang berkewajiban mendidik tentu harus melakukan perbuatan mengajar. Padahal mengajar pada umumnya diartikan secara sempit dan formal sebagai kegiatan menyampaikan materi pelajaran tersebut , atau dengan kata lain agar siswa tersebut memiliki ilmu pegetahuan.
3)  Pengetahuan
                          Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaanterhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, penciuman rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
                         Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior) antara lain proses adopsi prilaku, tingkat pengetahuan yang   tercakup dalam domain kognitif, dan praktek atau tindakan (practice). (Soekidjo Notoatmodjo, 2005) 

BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL     
                                             
A.   Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti
            Adapun gambaran  pemberian ASI Eksklusif dipengaruhi oleh oleh beberapa faktor -faktor antara lain yaitu umur, pendidikan dan pengetahuan, yang secara sistematis dirumuskan sebagai berikut:
1.    Umur
Yang dimaksud dengan umur dalam penelitian ini adalah lamanya seseorang hidup sejak lahir sampai tanggal pengkajian.
2.    Pendidikan
Yang dimaksud dengan pendidikan dalam penelitian ini adalah jenjang pendidikan formal yang pernah diikuti oleh responden (ibu menyusui) dengan memiliki ijazah.
3.    Pengetahuan
Yang dimaksud dengan pengetahuan dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu yang mendalam mengenai ASI Eksklusif.

B.  Bagan Kerangka Konsep


 





















Keterangan :

                                                =  Variable yang diteliti



 
                                                 =  Variabel Independen
                                             

=  Variabel dependen


 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
1.    Pemberian  ASI  Eksklusif  adalah  bayi   hanya  diberi ASI  saja  tanpa makanan atau minuman lain sejak lahir sampai bayi berusia 0 – 6 bulan.        
Ya   :Bila ibu memberikan ASI pada bayi, tanpa makann    tambahan sejak umur 0 – 6 bulan.
Tidak  :Bila ibu memberikan makanan tambahan selain ASI pada bayi umur 0 – 6 bulan.
2.    Umur ibu adalah jumlah tahun lamanya kehidupan ibu sampai sekarang
Sehat             :  Jika umur ibu 20 – 35 tahun
Tidak sehat   :  Jika umur ibu < 20 dan > 35 tahun      
3.    Pendidikan ibu adalah pendidikan formal yang telah dicapai ibu sampai menyelesaikan  masa  pendidikan  atau  tidak  menyelesaikan  masa pendidikan, masa tersebut yaitu pendidikan SD sampai perguruan tinggi.
Rendah            : Bila tamat pendidikan SD dan SMP
Tinggi                :Bila tamat pendidikan SMA dan Akademik/   Perguruan Tinggi
Pengetahuan  adalah  merupakan  hasil  dari  tahu, dan  ini  terjadi  setelah orang  melakukan  penginderaan  terhadap  suatu  objek tertentu, pengetahuan seseorang  terhadap  sesuatu  materi  diperoleh  melalui mata dan telinga. (Soekidjo Notoatmodjo, 2005)
Pengetahuan  dalam  penelitian  dapat  ditulis dalam bentuk presentase sebagai berikut :
Cukup                   : Jika jawaban benar 80 – 100% dari seluruh pertanyaan
Kurang                 : Jika jawaban benar < 80% dari seluruh pertanyaan

BAB IV
METODE PENELITIAN

A.   JenisPenelitian
      Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu memberikan gambaran umum pemberian ASI Eksklusif yang dilakukan ibu – ibu yang menyusui di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten Bone
B.   Waktu Penelitian
             Penelitian dilakukan pada tanggal 28-31 Maret 2011
C.   Populasi dan Sampel
1.    Populasi Penelitian
                  Populasi dalam penelitian ini adalah semua bayi berumur 0-6 bulan yang ada di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten Bone
2.    Sampel Penelitian
                   Sampel dalam peneliian ini adalah bayi yang menyusui secara Eksklusif di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten Bone sebanyak 27 bayi.



D.    Cara Pengumpulan dan Pengolahan Data
       Menggunakan data primer yang diperoleh dengan pemberian kuesioner pada ibu menyusui  yang ada di di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten Bone
E.   Teknik Analisa Data
P = f/n x 100%

 
       Keseluruhan data diolah secara manual dengan menggunakan kalkulator yang kemudian dianalisa secara deskriptif dan di sajikan dalam bentuk frekuensi yang di sertai penjelasan :
             

      Keterangan :       P         : persentase hasil penelitian
                              f           : frekuensi
n          : jumlah sample











BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.       Hasil Penelitian
       Dari hasil penelitian yang dilakukan tentang pemberian ASI Eksklusif di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten Bone dari tanggal 28-31 Maret 2011 tentang respon jawaban yang mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif dengan populasi sebanyak 59 orang ibu menyusui yang sebagian besar tidak memberikan ASI Eksklusif  adalah sebagai berikut :

Tabel 5.1
Distribusi Pemberian ASI Eksklusif Di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten Bone Tahun 2011

Pemberian ASI Eksklusif
Jumlah
%
Ya
27
34
Tidak
52
66
Total
79
100
Sumber : Data Primer, 2011
        Dari tabel 5.1 diperoleh 27 orang ibu (34%) memberikan ASI Eksklusif dan 52 orang  ibu (67%) yang  tidak memberikan ASI Eksklusif pada bayinya.

Tabel 5.2
      Distribusi Pemberian ASI Eksklusif Berdasarkan Kelompok
Umur Ibu Di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten Bone Tahun 2011
Umur Ibu Menyusui
Jumlah
%
Sehat
14
52
Tidak sehat
13
48
Total
27
100
Sumber : Data Primer, 2011
       Dari tabel 5.2 diperhatikan ibu yang berada pada umur reproduksi sehat yang memberikan ASI Eksklusif sebanyak 14 orang ibu (52%) dan ibu yang memberikan ASI Eksklusif pada usia reproduksi tidak sehat sebanyak 13 orang ibu (48%).
Tabel 5.3
  Distribusi Pemberian ASI Eksklusif Berdasarkan Tingkat
Pendidikan Ibu Di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten Bone Tahun 2011
Pendidikan Ibu
Jumlah
%
Tinggi
11
41
Rendah
16
59
Total
27
100
Sumber  : Data Primer, 2011
       Dari tabel 5.3 dapat dilihat bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi yang memberikan ASI Eksklusif sebanyak 11 orang ibu (41%), sedangkan ibu  yang memiliki tingkat pendidikan rendah yang memberikan ASI Eksklusif  sebanyak  16 orang ibu (59 %).
Tabel 5.4
      Distribusi Pemberian ASI Eksklusif Berdasarkan Pengetahuan Ibu
Di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten BoneTahun 2011
Pengetahuan Ibu
            Jumlah           
%
Cukup
18
67
Kurang
9
33
Total
27
100
Sumber : Data Primer,2011
       Berdasarkan tabel 5.4 diatas dapat dilihat bahwa ibu yang memiliki pengetahuan cukup tentang pemberian ASI Eksklusif sebanyak 18 orang ibu (67%), dan ibu yang memiliki pengetahuan  kurang tentang pemberian ASI Eksklusif  sebanyak 9 orang ibu (33%).

B.   Pembahasan
       Pemberian Air Susu Ibu (ASI) sedini mungkin merupakan modal dasar dalam pembentukan manusia berkualitas terutama pemberian ASI Eksklusif, karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna untuk bayi, dimana kandungan  gizi sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Dengan demikian peran serta dan pemahaman masyarakat terutama ibu menyusui tentang  ASI  Eksklusif  sangat diperlukan. Selain itu, peran petugas kesehatan dalam pemberian informasi  dan pemberian motivasi juga sangat penting. Agar pelaksanaan pemberian informasi dan pemberian  ASI  Eksklusif  dapat terlaksana dengan baik demi terciptanya sumber daya manusia yang bermutu.
       Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan data primer sesuai dengan table 5.1 menunjukkan bahwa ibu yang memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya  sebanyak 27 orang ibu (34%) dan yang tidak memberikan ASI Eksklusif sebanyak 52 orang ibu (66%), ini menunjukkan bahwa lebih banyak ibu yang tidak memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya. Hal ini disebabkan persiapan psikologi ibu untuk menyusui, sikap ibu dipengaruhi beberapa faktor adat/kebiasaan/kepercayaan menyusui untuk daerah masing – masing, pengalaman menyusui sebelumnya atau pengalaman menyusui dalam keluarga/kerabat, pengetahuan tentang manfaat ASI, kehamilan diinginkan atau tidak.Dukungan dokter/petugas kesehatan, teman atau kerabat dekat sangat dibutuhkan terutama pada ibu yang baru pertama kali hamil.
       Dari  table 5.2 diperlihatkan ibu yang berada pada umur < 20 tahun yang memberikan ASI Eksklusif sebanyak 9 orang ibu (33%). Hal ini disebabkan karena ibu yang berusia reproduksi muda (< 20 tahun) keadaan emosional belum stabil, dimana egonya masih ingin bebas sebagai orang muda.Ibu yang berada pada umur 20 – 35 tahun yang   memberikan  ASI  Eksklusif  paling  banyak  yaitu 14 orang ibu (52%). Hal ini disebabkan karena sampel yang diteliti lebih banyak   pada usia tersebut sehingga mempengaruhi hasil dan pada usia tersebut ibu telah menyadari dan sudah siap menerima kehadiran anaknya.Sedangkan ibu yang  berada  pada umur > 35 tahun yang memberikan ASI Eksklusif sebanyak 4 orang ibu (15%).Hal ini disebabkan karena ibu merasa malu jika menyusukan bayinya diusia yang demikian.
       Tabel 5.3 menunjukkan ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi yang memberikan ASI Eksklusif sebanyak 11 orang ibu (41%), ibu yang memiliki tingkat pendidikan rendah yang memberikan ASI Eksklusif sebanyak 16 orang ibu (59%).Hal ini disebabkan karena sampel yang diteliti lebih banyak pada tingkat pendidikan rendah sehingga mempengaruhi hasil.
               Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa ibu yang memiliki pengetahuan cukup tentang pemberian ASI Eksklusif sebanyak 18 orang ibu (67%), dan ibu yang memiliki pengetahuan kurang tentang pemberian ASI Eksklusif sebanyak 9 orang ibu (33%). Hal ini berarti bahwa pengetahuan yang cukup sangat penting peranannya dalam memberikan wawasan terhadap terbentuknya sikap yang selanjutnya  akan diikuti dengan tindakan pengetahuan yang cukup tinggi pula. Jika pengetahuan yang diperoleh kurang maka akan mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif terhadap bayinya. 
      




BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A.   Kesimpulan
       Berdasarkan hasil penelitian yang  dilakukan  tentang gambaran umum pemberian ASI Eksklusif di Dusun Mara’da Desa Bonto Padang Kecamatan kahu kabupaten Bone 2011, maka dibuat kesimpulan sebagai  berikut :
1.    Gambaran umum pemberian ASI Eksklusif terbanyak pada kelompok  usia reproduksi sehat yang memberikan ASI Eksklusif yaitu 14 orang ibu.
2.    Gambaran umum pemberian ASI Eksklusif terbanyak pada tingkat pendidkan tinggi yang memberikan ASI Eksklusif yaitu 11 orang ibu.
3.    Gambaran umum pemberian ASI Eksklusif terbanyak yang memiliki tingkat pengetahuan cukup tentang pemberian ASI Eksklusif yaitu 18 orang ibu.
B.   Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut :
1.    Perlu meningkatkan frekuensi penyuluhan kesehatan tentang pentingnya pemberian ASI Eksklusif khususnya kepada ibu yang memiliki pengetahuan yang kurang.
2.    Perlu meningkatkan frekuensi penyuluhan kesehatan tentang pentingnya pemberian ASI Eksklusif khususnya kepada ibu yang memiliki tingkat pendidikan rendah.
3.    Perlu meningkatkan frekuensi penyuluhan kesehatan tentang pentingnya pemberian ASI Eksklusif khususnya kepada ibu yang usia reproduksi tidak sehat.


DAFTAR PUSTAKA

Sofian. Mustika, 2001. 50 tahun IBI Bidan Menyonsong Masa Depan, Jakarta Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia
Anton Baskoro, 2008.  ASI Panduan Praktis Ibu Menyusui.Yogyakarta : Banyu Media.
Sri Purwanty, Hubertin, 2004. Konsep Penerapan ASI Eksklusif . Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Eny, R.A. Diah Wulandari, 2004. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta : Press.
Jane Coad dkk, 2007. Anatomi dan Fisiologi Untuk Bidan.Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Ari Sulistyawati, 2009. Asuhan kebidanan pada ibu Nifas. Yogyakarta : ANDI
Nurhaeni Arif, 2009. ASI dan Tumbuh Kembang Bayi. Yogyakarta : MedPress
Sitti Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba Medika
Nurheti Yulianti, 2010. Keajaiban ASI. Yogyakarta : ANDI
www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com, diakses tanggal 29 Maret 2011.
selasi.net/index.php?...mengenal-asi-eksklusif, diakses tanggal 28 maret 2011.
http://asuh.wikia.com/wiki/ASI_eksklusif" diakses tanggal . 28 maret 2011.
ibujempol.multiply.com/.../Serba_serbi_ASI_Eksklusif_6_bulan_1, diakses . . 28 maret 2011.
www.asuh.wikia.com/wiki/Manfaat_ASI, diakses tanggal 28 maret 2011.


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar